Beranda > Umum > Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir

Dominasi Rumah Makan Padang di Medan Berakhir

Dominasi rumah makan Padang di Medan selama bertahun-tahun tampaknya sudah berakhir dengan berdirinya usaha sejenis khas daerah Sumut, seperti rumah makan Padang Sidempuan dan rumah makan Sibolga.

Menu  rumah makan Padang berisiko tinggi terhadap kesehatan karena banyak berunsur santan, daging, cabe (sambal) dan langka dengan sayur sehingga perlu dicari tempat alternatif untuk makan siang dan malam, kata Rifal, seorang pendatang dari Jakarta yang sudah sebulan  bertugas di Medan, Jumat.

Salah seorang warga Minang di Medan M.Nawar mengakui, jarang makan nasi Padang karena tidak tahan lagi menyantap makanan pedas. Menurut catatan, rumah makan Padang di Medan yang terkenal antara lain Garuda, ACC, Bahagia, Famili, Sederhana dan Rumah Makan (Nasi Kapau) Uni Emi.

Ia mengatakan, setiap bertugas ke Medan dulu selalu mencari rumah makan Padang, karena selain cita rasanya yang lezat harganya juga lebih murah dibanding rumah makan Padang di Jakarta, tetapi akhir-akhir ini kecendrungan itu berobah dengan mencari  rumah makan khas daerah Sumut.

Rumah makan khas Sumut itu antara lain rumah makan Padang Sidempuan dan Rumah Makan Sibolga yang menyajikan aneka menu yang didominasi ikan laut dan ikan air tawar baik yang dibakar maupun digulai dengan santan seadanya  serta bermacam-macam sayuran.

Salah satu diantaranya adalah  rumah makan Padang Sidempuan di Medan terdapat di Jalan Darussalam simpang Sei Belutu yang menyajikan makan dan minuman sedikitnya 30 jenis setiap harinya dengan ciri utama ikan sale, ikan haporas, ikan mas, belut sambal, gulai petai dan sayur daun ubi tumbuk.

Pengusaha rumah makan itu, Rachmad Syah Lubis mengatakan, makanan dan minuman yang disediaknnya memang khas Tapanuli Selatan, Sumatera Utara karena  berbagai jenis ikan terutama haporas dan ikan sale sengaja didatangkan dari Padang Sidempuan, ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan.

Harga berbagai jenis makanan di rumah makan dengan bangunan berbentuk joglo, beratap nipah dan tepas (bambu), tanpa pendingin udara (AC) dan berdinding kayu itu dikatakan lebih murah dibanding rumah makan sejenis di kota Medan, karena tanpa AC tentu biaya lebih murah dan sebagainya.

Menurut dia, satu piring belut sambal hanya dihargai Rp10 ribu, ikan sale Rp8.000, kepala ikan mas gulai Rp 8.000 dan sayur daun ubi tumbuk hanya Rp3.000, sehingga siapapun yang makan di sini baik perorangan maupun berombongan tidak merasa “dicekik” dengan harga yang tinggi.

Menurut pengamatan, para pengunjung rumah makan dengan 12 pelayan yang semuanya laki-laki itu bukan hanya kelas menengah kebawah, tetapi artis dari Jakarta, kalangan eksekutif dan direksi sejumlah perusahaan besar juga sering tampak menikmati makan siang di rumah makan tersebut.

Rumah makan khas daerah lain, seperti RM Nasrul Sibolga dengan menu terkenal, kepala ikan gulai dan sontong gulai berlokasi di Jalan Sisingamangarja atau hanya beberapa puluh meter dari Mesjid Raya Medan meski harga makanan di sini sedikit tinggi karena rumah makan ini juga menyediakan ruangan ber-AC.

Selain itu berbagai rumah makan atau restoran khas Jawa juga banyak bermunculan di Medan, seperti rumah makan Wong Solo dan Koki Sunda, sementara restoran dengan makanan Jepang, Amerika Selatan dan Itali serta yang lainnya juga sudah banyak beroperasi di Medan.

Sumber Antara

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: