Beranda > Portofolio > Siti Nurbaya Muncul Kembali di Sumut

Siti Nurbaya Muncul Kembali di Sumut

Zaman “Siti Nurbaya”, yakni pernikahan yang berdasarkan perjodohan dari orang-orang tua, secara perlahan-lahan tapi pasti, kini mencuat di Sumut, karena banyaknya  gadis  dan pria dewasa yang terkesan seperti kepayahan untuk mendapatkan pasangan hidup.

“Mula-mula kami pertemukan mereka dalam acara silaturahmi pada hari raya yang lalu,  yang  jika kedua pihak ada kecocokan, pernikahan segera dilakukan bulan haji (Zulhijjah) mendatang,” kata ibu Mirnasari, bukan  nama sebenarnya kepada  ANTARA baru-baru ini.

Ibu rumah tangga yang bermukim di kota Tebing Tinggi ini, sebagaimana dengan ibu-ibu rumah tangga lainnya memilih bulan haji sebagai hari pernikahan, karena dinilai membawa berkah. Ia memiliki 3 orang anak gadis dan paling bungsu sedang menimba ilmu di kelas 3 SMU. Sedangkan kedua kakaknya belum berumah tangga. Suaminya yang berprofesi sebagai pegawai, sudah bersiap-siap untuk memasuki masa pensiun.

Kondisi yang sama juga terjadi pada beberapa keluarga di Medan, yang tidak semua orang rajin menelusurinya dengan cermat. “Si Nur sudah berumur dan syukur karena anak uwaknya  berkecocokan untuk menikahinya,” kata ibu Siti dengan nada gembira dan hati yang berbunga-bunga. Berbeda dengan Siti Nurbaya yang dipaksa menikah dengan Datuk Maringgih, perjodohan dewasa ini dilakukan secara persuasif, dengan mempertemukan kedua pihak untuk saling mengenal dengan akrab. Tidak tertutup kemungkinan sang gadis menolak ketika mengetahui calon pasangan hidupnya seorang pemabuk.

Berdasarkan penelusuran ANTARA,  perkawinan berdasarkan perjodohan yang dimotori para orang tua sudah berkembang sejak  tahun 1980-an, bahkan kemungkinan lebih awal lagi,  Menceritakan pengalamannya ketika menikahkan anak gadisnya, nyonya  Syakdiah yang bermukim di Medan Johor punya  kisah yang menarik untuk disimak. Ia mempunyai 6 orang anak dan yang paling besar seorang gadis.

Ibu rumah tangga yang suaminya pensiunan kepala sekolah itu, suatu hari kedatangan teman lama yang sudah belasan tahun tak bersua. Dari pertemuan  yang kemudian berkelanjutan ini, dicapailah kesepakatan untuk mempererat tali persaudaraan dengan cara menikahkan kedua anak mereka. “Pasangan itu  kini hidup rukun dan sudah dikarunia cucu,” kata nyonya Syakdiah dengan nada bangga.

Namun pengalaman pahit menimpa anak gadisnya yang ke-3 yang “kawin lari” dengan laki-laki pilihannya, yang konon katanya berdasarkan cinta. Setelahj dikarunia 3 orang anak, rumah tangga mereka pun berantakan, dan anak-anak pun  ikut dengan ibu, yang ujung-ujungnya menjadi beban neneknya.

Dewasa ini dengan semakin banyaknya anak perempuan, yang sebagian berpendidikan tinggi, tampaknya agak kepayahan untuk mendapatkan pasangan hidup. Pilihan terbaik nampaknya kembali ke zaman “Siti Nurbaya” dengan gaya lunak, karena kedua orang tua akan saling mengenal siapa bakal calon menantunya.

Sumber Antara

Kategori:Portofolio
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: