Beranda > Umum > Ritual Baru di Tubuh POLRI

Ritual Baru di Tubuh POLRI

Institusi Polri di bawah kepemimpinan Bambang Hendarso Danuri terus melakukan gebrakan baru. Setelah melakukan penertiban kepada jajarannya, kemudian dilanjutkan dengan pemberantasan premanisme. Kali ini, kapolri yang baru menjabat tersebut, hadir dengan terobosan baru, khususnya dalam pembinaan mental-spritual anggotanya. Mulai Januari 2009 nanti, Polri menerapkan ritual baru. Seluruh anggota Polri diwajibkan membaca Al Qur’an dan Injil paling tidak 10 menit sebelum memulai tugasnya. Sungguh menakjubkan. Dan barangkali intinya bukan semata pada upacara atau ritualnya, namun pada penguatan mental para anggota Polri yang diisi oleh kebenaran agama. Polisi yang beriman memang menjadi harapan dan impian kita bersama. Polisi yang beriman adalah polisi yang bekerja dan pekerjaannya dipersembakan kepada Tuhannya. Bukanlah polisi yang arogan dan tidak manusiawi. Tetapi polisi yang beriman adalah polisi yang tegas, profesional, tidak mau terjebak kepada hal-hal yang menciderai tugasnya dan tanggungjawabnya.

Karena itu, pembinaan iman di kalangan kepolisian hendaknya mendapat tempat yang cukup. Misalnya para pemimpin membina bawahannya melalui pendekatan sisi keagamaan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengadakan acara-acara siraman rohani bagi anak buahnya. Jika ini sudah terjadi, maka hampir dapat dipastikan kinerja aparat kepolisian ke depan akan baik. Implementasi dari polisi yang beriman itu setidaknya akan berdampak pada : Pertama, Polisi yang beriman adalah polisi yang diharapkan memiiki cara pandang, cara pikir, dan cara tindak yang sesuai dengan kondisi dan tuntutan masyarakat.


Hal ini beriringan dan sesuai dengan fungsi universalnya, dimana anggota Polri diharapkan tidak lagi bergaya militeristik, kaku dan tertutup, tetapi harus lebih bergaya sipil, terbuka dan memiliki akuntanbilitas publik. Itulah, setidaknya cermin dari situasi dimana Polri sudah berubah. Dan karena polisi adalah penegak hukum, koridor yang dimainkannya tentu harus tetap berpijak pada tataran hukum, bukan pada tataran yang lain, termasuk tataran politik atau untuk kepentingan kekuasaan, tetapi lebih berpihak kepada kepentingan publik.
Kedua, polisi adalah aparat penegak hukum. Maka, dengan sendirinya tindakan dan perilaku polisi harus berada dalam koridor hukum. Termasuk juga mematuhi hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Maka dengan sendirinya sikap patuh pada aturan secara institusional menjadi suatu kewajiban bagi anggota Polri. Termasuk untuk tidak melakukan “korupsi” sebagaimana disebut di atas. Hal ini beriringan dengan apa yang tercermin dalam sumpah Prajurit seperti Tri Brata dan Catur Prasetya-dimana anggota Polri sebagai abdi nusa bangsa, patuh pada pimpinan, aturan dan lain-lain. Ini dimungkinkan terwujud apabila polisi tersebut telah memiliki iman yang teguh.
Ketiga, polisi yang beriman adalah jawaban dari keraguan masyarakat terhadap kinerja polisi. Anggapan-anggapan buruk seperti selama ini terjadi, mungkin dipengaruhi oleh kesadaran kolektif pada masyarakat Indonesia, yang masih terbelenggu kesan dan anggapan lapuk, bahwa anggota Polri itu identik dengan keburukan. Identik dengan pemerasan. Identik dengan kekuasaan yang tak terbatas.
Memang kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan yang mutlak, pasti korup. Karena itulah barangkali, Dalberg, pernah mengungkapkan dan bahkan mengingatkan manusia supaya selalu kritis terhadap kekuasaan dan mengontrol kekuasaan. Misalnya kekuasaan yang melekat pada institusi Polri, yaitu sebagai pelindung, pengayom, penjaga keamanan menjadi cenderung untuk dikorup oleh para anggotanya.
Jika iman sudah teguh, maka sumpah jabatan tersebut akan dapat diimplementasikan, maka kekuasaan yang cenderung korup tersebut akan berobah menjadi tanggung jawab hukum, yang kemudian terjelma dalam sikap, tindakan, dan perilaku kritis dari anggota Polri itu sendiri.
Anggota Polri itu adalah pemimpin. Pemimpin yang adalah pelayan, penjaga, pengayom dan pelindung bagi masyarakat. Karena itu, sebagai pemimpin tentu harus bisa hadir di hati masyarakat. Harus bisa dan rela untuk mengabdi bagi kepentingan masyarakat, yang tidak mau memutlakkan kekuasaan, uang dan jabatan.

Kategori:Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: